Salah Kaprah Sistem Poin Bonus FPL

0
197

Selain gol, asis, dan clean sheet, terdapat pula sumber poin lain yang cukup berpengaruh pada total poin yang diraih manajer FPL, yaitu poin bonus.

Berbeda dengan poin aksi yang didapat pemain saat itu juga, poin bonus baru akan diberikan setelah pertandingan usai, atau lebih tepatnya adalah pada saat satu jam setelah semua pertandingan di satu hari sudah selesai.

Tapi terkadang pemberian poin bonus mengundang tanda tanya bagi para manajer FPL. Pertanyaan yang sering muncul tidak jauh-jauh dari:

“Kok, Pemain A dapat bonus tapi Pemain B tidak?”
“Kok, Pemain A dapat bonus maksimal padahal gol/asisnya lebih sedikit dari Pemain B?”
“Kok, pemain yang dapat bonus dari pertandingan ini banyak banget?”

Mungkin Anda pun termasuk salah satu manajer FPL yang kadang ingin bertanya seperti demikian. Tenang saja, itulah yang akan kami bahas pada artikel ini.

Apa Itu Poin Bonus?

Dalam setiap pertandingan, poin bonus yang diberikan kepada para pemain berada dalam kisaran 1-3 poin. Semakin baik penampilan seorang pemain, poin bonus yang akan diberikan kepada pemain tersebut makin tinggi.

Lantas, bagaimana cara situs FPL menilai pemain tersebut bermain baik atau tidak? Berbeda dengan gelar man of the match yang bersifat lebih subjektif, situs FPL murni menggunakan penghitungan statistik. Hasil penghitungan statistik inilah yang disebut sebagai BPS atau Bonus Point System, seperti yang dapat Anda temukan pada gambar di bawah (diberi lingkaran merah).

Angka-angka ini di-update di situs FPL secara real-time saat pertandingan berlangsung, sehingga para manajer bisa melihat angka-angka BPS ini meski pertandingan belum selesai.

Peluang berbahaya, atau peluang besar, adalah kondisi ketika seorang pemain seharusnya diharapkan bisa mencetak gol. Ini mungkin bisa jadi agak subjektif, namun statistik ini tersedia langsung dari Opta. Situs FPL hanya menerima data tersebut.

Statistik perihal mencetak gol penentu kemenangan mungkin juga terdengar agak samar dan subjektif. Sebenarnya, statistik ini tidak subjektif sama sekali dan mudah dilihat.

Misalnya, Everton mengalahkan Burnley dengan skor 4-2. Mau seperti apapun urutan pencetak gol dalam pertandingan tersebut, pencetak gol ketiga Everton (untuk mengungguli dua gol yang dibuat Burnley) akan dianggap sebagai penentu kemenangan. Begitu juga pencetak gol pertama dalam skor seperti 5-0. Kalau skor berakhir imbang, poin dari kategori ini tidak akan diberikan.

Tapi, statistik pencetak gol penentu kemenangan baru bisa diberikan setelah pertandingan berakhir. Selain itu, Opta selalu melakukan pengecekan ulang terhadap statistik yang sudah dicatatnya selama real-time. Itulah mengapa situs FPL masih melakukan perubahan jumlah BPS dalam jangka waktu sejam setelah pertandingan terakhir, sebelum dirilis.

Hasilnya Terkadang Bisa Aneh, Tapi Ini Adil

Karena murni melihat statistik, memang, pada akhirnya sistem ini tidak dapat memuaskan semua manajer FPL. Cukup sering terjadi ketika pemain yang terlihat bermain sangat baik di mata kita, tidak mendapat poin bonus yang tinggi.

Situs FPL pun tidak berdiam saja karena hal ini. Dalam beberapa tahun terakhir, mereka pun melakukan berbagai modifikasi dan tes untuk terus mematangkan sistem BPS yang diharapkan menjadi semakin baik.

Jika situs FPL akan melakukan penggantian sistem, hal itu biasanya baru akan dilakukan pada awal musim baru. Maka, para manajer FPL yang mengharapkan perubahan dari sistem BPS dapat dipastikan tidak akan mendapat perubahan sesegera mungkin.

Tapi, jika melihat ini adil atau tidak, memakai sistem seperti ini adalah solusi yang adil. Penambahan unsur subjektifitas justru akan membuat perdebatan menjadi semakin banyak. Setiap orang pasti punya penilaian sendiri-sendiri mengenai siapa yang pantas menjadi man of the match.

Contoh Kasus

Kita dapat mengacu pada apa yang terjadi pada dua pertandingan Liverpool terakhir.

Saat GW10, Philippe Coutinho berhasil mencetak 2 asis melawan Crystal Palace, tapi dia harus mengalah tanpa mendapat satu poin bonus pun. Pada pertandingan tersebut, James McArthur (41), Jordan Henderson (39), Alberto Moreno (31) adalah tiga pemain yang mendapat masing-masing 3, 2, dan 1 poin bonus. Coutinho hanya mendapat 30 BPS.

Bukan berarti Coutinho bermain buruk pada pertandingan tersebut. Justru sebaliknya, hanya saja, dengan menggunakan penghitungan statistik di atas, ada tiga pemain yang dinilai bermain lebih baik dibanding Coutinho.

Begitu pula yang terjadi di GW11 ketika melawan Watford, Adam Lallana berhasil mendapat 3 poin bonus meski hanya mencatat 2 asis, mengungguli Roberto Firmino (1 gol dan 2 asis) dan Coutinho (1 gol dan 1 asis).

Pencetak gol dan asis sudah mendapat alokasi poin tersendiri (4-6 poin untuk gol dan 3 untuk asis). Jika poin bonus lagi-lagi ditentukan dari gol dan asis, hal ini hanya akan semakin melebarkan jarak poin pendulang gol dan/atau asis dengan yang tidak.

Kesimpulannya, pemberian poin bonus dalam suatu pertandingan tidak sesimpel langsung memberikannya kepada pemain yang lebih banyak membuat gol atau asis saja. Perlu juga untuk melihat kontribusinya secara keseluruhan (terutama dalam statistik yang masuk kriteria penghitungan).

Comments

comments