Davide Astori – Kapten Murah Senyum Yang ‘Warisannya’ Akan Selalu Abadi

0
102

Tanggal 4 Maret 2018, para pemain Genoa dan Cagliari sedang melakukan pemanasan di Marassi sebelum memainkan pertandingan giornata 27 Serie A. Lalu datang sebuah kabar dari kota Udine, yang sangat mengejutkan ibarat petir di siang bolong. Mattia Perin seolah tak percaya, dan kiper Genoa itu meninggalkan lapangan dengan berurai air mata.

Kabar lantas menyebar. Para pemain dan staf, juga ofisial pertandingan, berjalan kembali ke lorong stadion. Mereka tertunduk dalam kesedihan.

Pertandingan tersebut, juga semua pertandingan tersisa pada pekan itu, di Serie B dan Serie A, dibatalkan. Termasuk di antaranya adalah ‘survival match’ Hellas Verona vs Benevento, ‘duel Eropa’ antara Atalanta kontra Sampdoria, dan partai derby di kota Milan.

Namun tak ada yang protes. Para suporter yang sudah capek-capek datang ke Marassi untuk mendukung Genoa dan Cagliari pun menerima keputusan yang dikeluarkan oleh otoritas liga itu.

Ketika sebuah foto muncul di layar raksasa, semua spontan bertepuk tangan sebagai bentuk apresiasi dan dukacita mereka. Foto tersebut adalah foto Davide Astori.



Kapten Fiorentina dan bek sentral Italia yang dikenal murah senyum dan rendah hati itu meninggal dunia di hotel tim sebelum laga tandang melawan Udinese. Cardiac arrest atau henti jantung diduga sebagai penyebabnya.

Pemain yang lahir 7 Januari 1987 di San Giovanni Bianco, sekitar 60 kilometer dari kota Milan, itu menghembuskan napas terakhir pada usia 31. Dia meninggalkan sang istri Francesca Fioretti, sang putri Vittoria yang berusia dua tahun, dan seorang bayi yang baru berusia dua minggu.

Kepergian Astori menyisakan duka, tapi ada satu ‘warisannya’ yang akan selalu abadi selamanya. Senyumannya.

PAGI YANG TIDAK BIASA

Tim Fiorentina menginap di hotel La’ Di Moret jelang laga melawan tuan rumah Udinese. Ada hal yang tidak biasa di pagi hari.

Biasanya Astori adalah yang muncul paling awal. Namun kali ini tidak.

Setelah menunggu lama, dan telepon juga tak diangkat, rekan-rekannya mulai curiga. Mereka pun mendatangi kamarnya dan tetap tak ada jawaban. Menurut laporan di Italia, rekan-rekannya akhirnya mendobrak pintu kamar dan menemukan Astori sudah meninggal dunia.

“Dia tidak muncul saat sarapan tim pada 9:30, padahal biasanya dia yang selalu paling awal,” terang juru bicara Fiorentina Arturo Mastronardi, seperti dikutip Football Italia.

“Mereka pun pergi untuk melihat keadaannya. Davide memang tidur sendirian di kamarnya. Kami belum tahu penyebab kematiannya. Jenazahnya sudah dibawa untuk autopsi.”

Orang terakhir yang melihat Astori adalah kiper Marco Sportiello, yang malamnya masih bermain PlayStation dengannya.

“Yang terakhir melihatnya Davide adalah Marco Sportiello. Beberapa pemain memang ada yang tidur di single room, dan beberapa di double room.”

“Keluarganya dari Bergamo. Orang tuanya dikabari via telepon, sedangkan istrinya di Florence didatangi langsung oleh beberapa direktur kami.”

Astori diduga meninggal secara alami. Hal ini diungkapkan oleh jaksa Udine, Antonio De Nicolo.

“Dugaan yang kami punya terkait situasi ini adalah pemain yang bersangkutan meninggal akibat cardiac arrest oleh sebab-sebab alami.”

“Ini memang aneh, karena terjadi pada seorang pemain profesional yang kondisinya selalu dimonitor dan tak ada gejala apapun sebelumnya.”

Untuk urusan medis pemain profesional, Italia punya aturan yang sangat ketat. Semua orang harus melalui beberapa tes sebelum bisa ambil bagian dalam olahraga di level profesional. Namun untuk kasus Astori, sepertinya itu memang tak bisa dihindari.

“Sayangnya ini bisa terjadi, dan ini sudah terjadi,” kata kepala tim medis klub Napoli Alfonso De Nicola kepada Mediaset Premium. “Kejadian ini (meninggalnya Astori) harus memicu penelitian agar kita bisa mendeteksi kondisi-kondisi seperti ini dan mencegah hal serupa terjadi di masa depan.”

PEMAIN MURAH SENYUM, RENDAH HATI, DAN YANG SELALU PALING AKHIR MENYERAH

Kenapa Mattia Perin sampai begitu sedihnya, padahal dia tak pernah satu klub dengan Astori? Mereka seringnya bertemu sebagai lawan di atas lapangan. Bertemu sebagai rekan pun cuma di Coverciano saat dipanggil timnas Italia.

Astori hanya mengantongi 14 international caps untuk Azzurri periode 2011-2017 dan mencetak satu gol (lawan Uruguay di Piala Konfederasi 2013). Sementara itu, Perin baru memainkan satu pertandingan tim senior Italia.

Namun Astori selalu meninggalkan kesan yang sangat mendalam pada orang-orang yang pernah ditemuinya.

“Tak percaya kalau ini nyata. Sulit memercayainya,” tulis Perin di Instagram.

“Ini merupakan pukulan yang mampu membuat kita jatuh terkulai dan menghancurkan hati. Kami melalui banyak momen fantastis bersama. Di atas lapangan, kau adalah lawan yang rendah hati dan sportif, juga kuat dan selalu jadi paling akhir yang menyerah, yang pertama memberikan kata-kata untuk menenangkan.”

“Momen-momen lainnya, lebih dari fantastis, kami lalui di Coverciano, terutama saat makan siang dan makan malam di ujung meja, dengan tawa.”

“Seperti inilah aku akan selalu mengingatmu, engkau dengan senyuman di wajahmu. Ciao Davidone.”

MENIMBA ILMU DI MILAN, TUMBUH BERSAMA CAGLIARI, ‘TUTUP KARIER’ DI FIORENTINA

Lahir dan dibesarkan di provinsi Bergamo, Astori mulai bermain dengan tim lokal Pontisola sebelum gabung AC Milan pada 2001. Lima tahun dia menimba ilmu di tim primavera Milan.

Selama di Milan, dia dipinjamkan ke klub Serie C1 Pizzighettone dan Cremonese pada musim 2006/07 dan 2007/08.

Pada awal musim 2008/09, Astori direkrut Cagliari. Statusnya berupa kepemilikan bersama dengan Milan. Debutnya di Serie A adalah laga tandang melawan Siena pada 14 September 2008.

Bersama Cagliari, kemampuan Astori meningkat. Separuh hak kepemilikannya lantas dibeli oleh Cagliari dari Milan pada Juni 2011. Waktu itu, Astori pun sepenuhnya jadi milik Cagliari.

Juli 2014, AS Roma meminjam Astori. Di klub ini, dia gagal menunjukkan kemampuan dengan optimal akibat cedera.

Agustus 2015, Astori dilepas ke Fiorentina dengan status pinjaman selama semusim plus kewajiban untuk membeli. Pada awal musim 2017/18, Astori ditunjuk menjadi kapten Fiorentina seiring hengkangnya Gonzalo Rodriguez.

Belum genap semusim memakai ban kapten Viola, Astori ternyata sudah sampai pada lembar terakhir dalam karier dan kehidupannya.

Astori bukanlah pemain yang menonjol. Di luar Italia, terutama mereka yang tak mengikuti Serie A, mungkin tak mengenal atau bahkan tak pernah mendengar namanya. Di timnas Italia pun, dia jauh dari posisi reguler, karena dia berada satu era dengan trio Andrea Barzagli, Leonardo Bonucci dan Giorgio Chiellini.

Namun tak setiap orang bisa memainkan 289 pertandingan Serie A sebagai starter sepertinya. Bagi Fiorentina, dia adalah pilar yang berharga. Pihak klub bahkan telah menyiapkan kontrak baru, tapi dia ternyata sudah harus pergi – untuk selamanya.

Astori adalah sosok yang istimewa, teladan di dalam maupun luar lapangan. Semua yang pernah bertemu dengannya hanya punya kesan positif tentangnya.

Lihat saja deretan tribute yang ditujukan kepada Astori setelah kabar tentang kematiannya menyebar.

TRIBUTE UNTUK ASTORI

Gianluigi Buffon – kiper Juventus dan kapten Astori di timnas Italia
Istrimu dan keluargamu kini bersedih. Putrimu yang masih kecil berhak tahu bahwa ayahnya pantas disebut sebagai sosok sempurna dari semua sisi. Kau adalah wujud dari dunia era lama yang mengutamakan nilai-nilai seperti altruisme, keeleganan, pendidikan, dan rasa hormat pada sesama.

Matteo Renzi – mantan Perdana Menteri Italia dan tifosi Fiorentina
Bagi saya, ini sepertinya mustahil. Saya tak bisa memercayainya. Saya berduka bersama keluargamu dan semua orang di Fiorentina. Ciao Capitano.

Boja Valero – gelandang Inter Milan mantan pemain Fiorentina
Saya tak percaya. Saya tak mau memercayainya…. Namun ini nyata… RIP Davide.

Radja Nainggolan – rekan Astori di Cagliari dan Roma
Pemain hebat, tapi di atas itu semua, pribadi yang luar biasa… Banyak pertarungan yang kita lalui bersama di Cagliari, lalu berjumpa lagi di Roma… Saya masih tak percaya… Dukacita saya untuk keluarga dan orang-orang dekatnya… RIP.

Franco Baresi – bek legendaris AC Milan
Tak percaya, sebuah tragedi, saya kehilangan kata-kata. Saya melihatmu tumbuh dan merasa bangga dengan jalan yang kau tempuh. Duka saya untuk keluargamu.RIP Davide.

Khouma Babacar – Striker Sassuolo pinjaman dari Fiorentina
Saya tak punya kata-kata untuk menggambarkan orang yang luar biasa ini. Saya tak bicara tentang dia di atas lapangan, tapi luar lapangan. Selalu tersenyum. Kau adalah orang pertama yang selalu berlari ke saya ketika saya mencetak gol, bahkan lari 70 meter lebih untuk menghampiri saya. Ciao brother. Turut berduka untuk keluarganya dan juga untuk sepakbola, karena hanya sedikit orang sepertinya di dunia saat ini.

Vincenzo Montella – mantan pelatih Fiorentina yang sekarang di Sevilla
Ada duka yang tak bisa digambarkan dengan kata-kata. Kematian Davide yang mendadak ini seperti luka yang menyayat kulit, dan hati. Senyum dan ketulusannya akan selalu bersama kita yang pernah berjalan di sampingnya. Ciao kapten.

Leonardo Bonucci – bek Milan dan timnas Italia
Ciao Grande Asto. Itulah panggilan saya untukmu ketika kita bertemu, baik ketika bertanding sebagai lawan maupun saat berkumpul di Nazionale. Senyuman, pelukan – yang benar-benar tulus. Kau adalah orang yang sportif, jujur dan rendah hati….

….Dengan senyum yang tak pernah luntur, jelas terlihat betapa banyak kebaikan yang ada dalam dirimu. Kau telah pergi untuk bermain sepakbola di atas sana dan kau akan melakukannya dengan senyuman yang sama. Senyuman yang selalu terlukis di wajahmu

Dari Astori, kita sadar bahwa pesepakbola juga manusia biasa. Kematian itu pasti datang, kapan saja dan di mana saja. Kita tak bisa menghindarinya.

Astori secara tidak langsung juga mengajarkan tentang sesuatu yang sederhana namun kaya makna, yaitu senyuman.

Bertemu siapa saja, tersenyumlah. Berada dalam situasi sulit seperti apapun, tetap tersenyumlah.

Senyuman – itulah yang paling diingat tentang Davide Astori oleh orang-orang di sekitarnya.

Senyuman – itulah warisannya yang akan selalu abadi, selamanya.

Comments

comments